GSM, satukan dua peradaban yang berbeda di Wamena

Laouk... Narak... lalu jabat hangat..
Begitu sapaan akrab yang kita terima saat tiba di Wamena, sebuah Kota Kabupaten yang terdapat di Jayapura. Dua kata tersebut kurang lebih berarti ’selamat’ atau ’salam’. Laouk diucapkan untuk wanita dan narak untuk lelaki. Wah... kesan serem dibalik kulit gelap dan cerita ngeri tentang Papua, blas lenyap! Kamipun terpesona pada senyum tulus dan bahasa santun mereka.
Ini adalah penggalan cerita perjalanan kami menjelajahi pedalaman hutan Papua nan eksotik untuk program Jejak Petualang TV7. Kami bersama dengan para anggota simPATI Zone yang beruntung ikut dalam perjalanan luar biasa ini. Masing-masing Natasaha (Bandung), Tari (Bandar Lampung) Niken (Surabaya), Azmi (Batu-Malang) dan Mursalim (Sangihe).
Untuk mengamati kehidupan tradisional penduduk asli Wamena, kami harus berkendaraan selama kurang lebih dua jam dari kota Wamena menuju Watlangku dan rela trekking naik turun gunung Wiyan menerobos hutan dan nginep di tenda.
sa Pake simPATI...
Hari pertama, kami mulai membelah hutan ditemani oleh guide dan porter yang terdiri dari para penduduk setempat. Mereka membantu membawakan perbekalan dan perlengkapan selama perjalanan. Buset! Saat kitanya ngos-ngosan bertreking ria (itupun gak memanggul apa-apa), para porter itu malah dengan nyantenya jalan tanpa alas kaki menapak lincah di jalan setapak dalam hutan. Eeh.. masih sempat pula nyanyi-nyanyi dan joget-joget dengan lagu khas mereka. Enak juga sih, kita jadinya terhibur dan heboh foto-foto.
Begitu sapaan akrab yang kita terima saat tiba di Wamena, sebuah Kota Kabupaten yang terdapat di Jayapura. Dua kata tersebut kurang lebih berarti ’selamat’ atau ’salam’. Laouk diucapkan untuk wanita dan narak untuk lelaki. Wah... kesan serem dibalik kulit gelap dan cerita ngeri tentang Papua, blas lenyap! Kamipun terpesona pada senyum tulus dan bahasa santun mereka.

Ini adalah penggalan cerita perjalanan kami menjelajahi pedalaman hutan Papua nan eksotik untuk program Jejak Petualang TV7. Kami bersama dengan para anggota simPATI Zone yang beruntung ikut dalam perjalanan luar biasa ini. Masing-masing Natasaha (Bandung), Tari (Bandar Lampung) Niken (Surabaya), Azmi (Batu-Malang) dan Mursalim (Sangihe).
Untuk mengamati kehidupan tradisional penduduk asli Wamena, kami harus berkendaraan selama kurang lebih dua jam dari kota Wamena menuju Watlangku dan rela trekking naik turun gunung Wiyan menerobos hutan dan nginep di tenda.
sa Pake simPATI...

Hari pertama, kami mulai membelah hutan ditemani oleh guide dan porter yang terdiri dari para penduduk setempat. Mereka membantu membawakan perbekalan dan perlengkapan selama perjalanan. Buset! Saat kitanya ngos-ngosan bertreking ria (itupun gak memanggul apa-apa), para porter itu malah dengan nyantenya jalan tanpa alas kaki menapak lincah di jalan setapak dalam hutan. Eeh.. masih sempat pula nyanyi-nyanyi dan joget-joget dengan lagu khas mereka. Enak juga sih, kita jadinya terhibur dan heboh foto-foto.

Ada kejadian seru waktu kami lagi istirahat untuk kesekian kalinya. Nafas masih tersengal-sengal ketika tiba-tiba, Natalis, salah seorang guide berteriak sambil berlari turun..”wooeee simPATI ada signaaall..!!”. Seperti dikomando semuanya langsung ngecek HP masing-masing yang sejak berangkat tadi bungkam dengan manis di kantong. Seluruh pesertapun kompak geleng-geleng kepala...”Wiiih... gila... dalam hutan serapat kayak gini, tetep dapet signal Telkomsel?!”. Maka lalu sibuklah semuanya ber-sms ria melaporkan kejadian ajaib itu. Si Natalis dan beberapa rekan lain malah nekat coba menelepon dan BISA ! Heboh dah.. Natalis-pun promosi pada semua orang, ”sa pake simPATI ini. Karna cuma simPATI yang bagus de pu signal. Kuat punya !”. Mulai dari situ, HP peserta mulai rajin diaktifkan. Tiap kali ada kesempatan istirahat, semua pada ngecek HP.
Lepas Magrib rombongan tiba di kampung Wantubi. Saatnya mendirikan tenda untuk nginep dan istirahat setelah jatuh bangun bergelut dengan jalur yang licin dan sulit. Malam itu kami bergelung dalam sleeping bag masing-masing di ketinggian 2500m dpl, pada suhu 15 derajat Celsius. Brrr !
Oleh-Oleh Koteka
Hari kedua, setelah sarapan ubi dan bersih-bersih di sungai yang airnya dingin minta ampun. Kami kongkow bareng penduduk lokal. Kami diperlihatkan gimana mereka memanjat pohon dengan menggunakan sejenis rangkaian tali. Seorang kepala suku juga sempat menjelaskan bagaimana cara membuat Koteka (penutup kemaluan lelaki) dan ngasih 5 Koteka buat oleh-oleh (ada yang berminat? Hehe).
Hari kedua, setelah sarapan ubi dan bersih-bersih di sungai yang airnya dingin minta ampun. Kami kongkow bareng penduduk lokal. Kami diperlihatkan gimana mereka memanjat pohon dengan menggunakan sejenis rangkaian tali. Seorang kepala suku juga sempat menjelaskan bagaimana cara membuat Koteka (penutup kemaluan lelaki) dan ngasih 5 Koteka buat oleh-oleh (ada yang berminat? Hehe).
Selanjutnya kami diperlihatkan cara membuat gelang yang disebut Sengkan. Gelang tersebut dianyam dari 2 jenis batang tanaman tipis berukuran 1 mm. Yang berwarna coklat tua namanya mirele, yang berwarna pucat (hijau muda) disebut tingkil. Mereka menganyam dengan jarum kecil khusus terbuat dari kayu. Kami juga diberi penjelasan tentang pembuatan panah dan busur yang gagangnya terbuat dari kayu yoli, sedangkan pelontarnya terbuat dari rotan. Mata panah juga dibuat dari yoli. Sambil menunggu kaka (=kakak) selesai membikin gelang, kami dihibur kaka lainnya yang memainkan alat musik PIKON. Alat ini terbuat dari bilah semacam pohon bambu yang disebut vinte. Cara membunyikanya dengan menghembuskan udara dari mulut, sambil menarik-narik benang di ujung lain Pikon.
Maka Pikonpun lalu bunyi lucu.. boeng woeng woeng….!
Puas ’berguru’ membuat macam-macam alat tradisonal, rombongan lalu diajak melihat kegiatan berkebun di ladang kakek Immanuel. Kami juga ikutan ngais-ngais tanah dan belajar menanam ubi jalar, tanaman pokok di kebun tersebut.Seperti hari kemarin, peserta dengan giatnya mengecek signal. Dan tak sia-sia usaha itu, karena di ladang kakek Imanuel ini, HP kami ternyata kembali bisa dapat signal. Bunyi notifikasi sms masuk, sanggup mengembangkan senyum kami semua.
Cek SIGNAL Forever...
Sepulang berladang, rombongan kembali ke camp lalu makan siang dan segera berkemas siap melanjutkan perjalanan menuju ke kampung berikutnya, Narengkaima. Medan kali ini cenderung variatif, datar, mendaki, menurun dan becek. Kali ini peserta berspekulasi untuk terus mengaktifkan HP-nya.
Tiba-tiba, di suatu areal terbuka di satu sisi bukit, dimana kami bisa melihat kota Wamena dari atas sana.. para peserta mendadak menghentikan langkahnya ketika terdengar bunyi sms masuk. GPS yang dipegang crew TV7 menunjukkan saat itu kami berada di ketinggian 2140 m dpl. Kali ini, signal di HP terlihat hampir full. Istirahatpun jadi molor. Refleks seluruh peserta langsung sibuk dengan HP masing-masing. Yang sms-lah, telpon koordinasilah, laporanlah... rame!! (Saya sendiri penasaran... tower BTSnya aja nggak kelihatan dari atas sini, tapi koq bisa ada signal kenceng yah? Kota Wamena dan sekitarnya, saat ini dilayani oleh 2 BTS GSM dan 1 DCS yang terbagi dalam 2 site).Kuatir kelamaan di jalan, kami bergegas masuk hutan lagi. Di jalur ini kami terkagum-kagum dengan banyaknya tumbuhan unik warna warni yang dijumpai di sepanjang jalan. Kebanyakan, sejenis anggrek gitulah. Dan salah satunya anggrek Kantong Semar yang sungguh eksotis itu. Ya sudah... foto sana-sini lagi..
Gunung Wiyan semakin tinggi kami daki. Tiba di titik 2890m dpl, akhirnya kami tiba di sebuah Pilamo (kompleks rumah tradisonal-Honai) di desa Narengkaima. Honai Baba, begitu Natalis menyebutkan nama kompleks Honai itu. Kami nginep lagi di sini. Hujan yang turun malam itu, menurunkan suhu hingga 13 derajat dan membuat tidur kami makin pulas dibalik tenda. Ya, kami memilih tidur di tenda ketimbang dalam honai yang hangat, karena mata kami perih tidak kuat dengan kepulan asap dari kayu bakar yang memang sengaja dibakar dalam honai untuk menjaga kehangatannya.

Bangun pagi, kami berkemas lagi untuk turun ke desa Jiwika atau Yiwika. Baru setengah jam turun bukit, rombongan kembali serempak berhenti... biasaaa.. ada bunyi sms masuk! Di tempat seperti ini, dapat signal memang rasanya lebih menyegarkan dari sebotol air dingin. Bahkan disaat kita kehausan sekalipun. Weleh.. weleh...!
Mulai dari titik tersebut sampai tiba di dataran terbuka berikutnya, peserta lebih sibuk dengan HP masing-masing ketimbang melihat jalanan setapak yang dilalui. Sampai ada yang nyeletuk “Telkomsel ini bener-bener deh… jangan-jangan ada yang bawa BTS mini nih di carriernya, makanya ada signal terus”. Saya malah bisa ngirim MMS ke Pak Paulus Jatmiko dari situ, yang lalu diikuti oleh rekan lain sambil terheran-heran.Jalur yang menurun terjal, kali ini cukup ‘menyenangkan’ karena perhatian terbagi dua antara jalanan dengan HP. Kami bersemangat turun gunung hingga tiba di Honai Modern desa Yiwika. Kenapa dinamai demikian, karena Honai yang satu ini sudah mengalami sentuhan ’tangan luar’ dengan design yang lebih manusiawi.
Honai tradisional umumnya ber’plafond’ rendah, cuma sekitar 60 cm. Tanpa jendela dan hanya beralaskan jerami. Sehingga akan terasa pengap bagi kita-kita yang belum terbiasa. Apalagi jika perapian di tengah ruangan sudah dinyalakan. Maka penuhlah dengan asap seluruh ruangan tersebut.
Sedangkan Honai modern yang berdiameter sekitar 3,5 m ini, dibuat agak lega dan kita bisa berdiri di dalamnya. Kabarnya, Honai modern ini sering digunakan untuk para pendatang atau turis yang ingin merasakan bermalam dalam nuansa Wamena asli, tapi masih tetap bisa ’bernafas lega’ di dalamnya. Malam itu kami memilih mencoba tidur didalamnya. Tapi kami belum cukup nekat untuk langsung berbaring di atas tumpukan jerami di lantainya. Matras dan sleeping bag masih tetap jadi alas andalan.
Masa lampau dan Masa depan, bersatu di sini
Esok paginya bertepatan dengan Hari NATAL, kamipun bersiap-siap mengikuti acara perayaan Natal di Honai Ailah. Seluruh keluarga besar Kepala Suku Ailah sudah berkumpul di Pilamo-nya. Ketika melihat kami datang, Kepala Suku langsung terisak-isak dan memeluk rekan Sugeng. Sugeng adalah anak angkatnya yang sudah lama tidak pernah datang ke sana.
Kami lalu berbaur dengan keluarga ini. Ikut bantu-bantu menumpuk bebatuan sebesar kepalan tangan dan batang pepohonan hingga membentuk bujursangkar 2 x 2 m persegi, untuk persiapan acara ’Bakar Batu’. Kami juga menyumbang Beras dan seekor Wam (=Babi) besar untuk acara ini.
Upacara memanah Wam lalu dilakukan oleh Kepala Suku. Pembakaran sudah dinyalakan. Batu-batu yang telah panas lalu dipindahkan dan disusun ke lubang lain di sebelahnya. Di atas bebatuan yang panas itu secara berselang-seling ditumpuki sayuran, ubi dan akhirnya daging Wam. Terakhir, ditutup dengan tumpukan alang-alang. Kita tinggal nunggu masaknya selama sekitar satu jam. Sementara di Honai Dapur, para ibu-ibu sibuk menyiapkan hidangan pelengkap lainnya seperti sayuran dan lauk-pauk.

Makan bersama digelar setelah sebelumnya diawali doa bersama. Kami terheran-heran melihat porsi makan mereka di sana. Nasi ditumpuk membumbung sepiring penuh (malah ada yang makan pake baskom kecil!!), lalu diatasnya diletakkan sayuran dan Wam bakar. Tampak begitu nikmat.
Di sini, signal Telkomsel tetap jagoan. Tapi kami cuma bisa melakukan sms tanpa bisa melakukan outgoing call. Beberapa proses dalam acara ini lalu saya rekam di kamera ponsel, lalu saya kirimkan ke beberapa teman plus ucapan Selamat Natal. Butuh waktu agak lama emang. Tapi toh tetep rasanya ajaib. Kami berada di kehidupan yang boleh dikata tertinggal, tapi sekaligus kami juga bisa memanfaatkan teknologi canggih! Oh TEKNOLOGI SELULER... engkau menyatukan peradaban masa lalu dan masa depan sekaligus di sini.
Menjelang petang, kamipun ’pulang’ ke Wamena dengan duduk bersesakan menumpang bis reot. Ditemani Sakeos dan Natalis, kami bernyanyi sepanjang jalan dengan lagu versi mereka... sayuuu narak... sayuuu narak... sampai berjumpa pula (=maksudnya lagu Sayonara, gitu lho!). <JoV>


0 Comments:
Post a Comment
<< Home