Asmat Trip 1 : Nyampe di Ewer
Membuka kembali folder Asmat dari hardisk, membuat aku ingin berbagi tentang daerah ini. Sebuah kabupaten di pojok Irian Jaya sana yang sama sekali tidak pernah kusangka akhirnya bisa kukunjungi.Setelah sempat hidup sepuluh hari di belantara Wamena tahun lalu, sedikit banyak aku membayangkan akan menjumpai sesuatu yang mirip antara dua daerah ini. Salah satunya kaum pria yang berkoteka.
Perjalanan diawali dengan pesawat. Untuk menuju ke lokasi ini, ada dua pilihan rute yang bisa diambil. Melalui Merauke, atau melalui Timika. Dua tempat ini dapat dijangkau dengan menumpang pesawat besar kelas Boeing. Setelah itu baru dilanjutkan dengan pesawat Twin Otter menuju Ewer.
Aromaterapi di Timika

Well, aku kebagian skedul ke Timika dulu. Landing subuh-subuh di Bandara Moses Kilangin-Timika, ceritanya mau langsung lanjut ke Ewer. Tapi sayang, kondisi hujan lebat di Merauke mengganjal twin otter terbang ke Timika. Akhirnya, bersama rekanku Bintang dari Makassar dan Mbak Tita dari Jogya, kami perlu nginap dulu semalam di daerah yang waktu itu lagi heboh-hebohnya mengusung demo anti Freeport. Ngeri juga sih ketika di jalan-jalan sempat berpapasan dengan sekelompok masyarakat pribumi, sebagian lengkap tombak dan busur, berkulit hitam berwajah garang.
Di Timika, kami nginep di Hotel Sheraton yang begitu alami dengan layout hotel berbintang namun dikelilingi hutan hujan, yang hanya berjarak sekitar 5-10 m dari jendela hotel, tanpa pagar pembatas. Sensasional sekali rasanya saat bangun subuh kita langsung bisa mendengarkan kicauan aneka burung terutama Nuri dan Kakatua saling bersahutan. Bau daun basah khas hutan serasa aromaterapi yang menyegarkan.Landasan TIKAR BAJA
Pagi-pagi benar, belum jam enam, kami bergegas menuju Bandara untuk mengejar pesawat ke Ewer. Maklum dengan kapasitas cuma untuk 18-20 orang, membuat kita harus berlomba-lomba memperebutkan seat. 
Enam ratus ribu, harga tiket one way Timika-Ewer. Buset --batinku--…lebih mahal dari tiket Makassar-Jakarta man! Padahal cuma sekitar 45 menit waktu tempuhnya dari Timika.
Pesawat berangkat tepat waktu jam 8 pagi. Kamera-ku tak bisa diam sepanjang jalan. Tak ingin melewatkan view belantara di bawah sana yang sungguh lebat dan padat dengan pepohonan, dibelah sungai-sungai besar bagai ular raksasa meliuk-liuk.
Sesaat menjelang mendarat membuat aku sedikit merasa tegang. Kata Tunitiro temanku dari Jayapura, landasan bandara di sana tidak terbuat dari aspal beton seperti bandara lainnya, kondisi tanah yang lembek berlumpur harus diakali dengan melapisi tanah dengan tikar baja.
Dan aku tambah was-was saat melihat penampang Tikar Baja itu dari atas, sebuah lempengan besi beralur dan berlubang-lubang (aduh, apa gak jadinya tambah licin nih landing di atas ‘besi’). Padahal, tepat di ujung landasan, terbentang sungai lebar. Aku betul-betul nervous saat pendaratan pesawat, yak.. karena baru kali ini juga aku akan merasakan ‘besi’ landing di atas ‘besi’.
Tapi segalanya berjalan mulus. Pendaratan berjalan ‘aman dan terkendali’. Begitu turun di tanah, kupelototi Tikar Baja itu dengan seksama dan sepuas-puasnya. Kita baru nyampe di Ewer, untuk melihat kehidupan suku Asmat perlu berkendaraan air lagi setengah jam……(bersambung)


0 Comments:
Post a Comment
<< Home