Monday, July 03, 2006

Asmat Trip 2 : 1'st day in AGATS

TIBA di Ewer, rombongan kami dijemput rekan Fikram. Dari Ewer, kita harus naik speedboat setengah jam lagi ke Agats (ibukota Kabupaten Asmat) untuk dapat melihat masyarakat Asmat. Nyewa speedboat untuk sekali jalan, 200-250 ribu per orang BO!. Make sense lah mengingat harga bahan bakar (bensin/solar) di sana yang perliternya bisa 20 ribu!!

SAAT loading ke boat, Fikram ngomong ”ayo cepat naik, saya mau kasih liat buaya di pinggir sungai. Tadi waktu saya ke sini dia lagi berjemur di muara” (ih.. horor amat sih tawarannya!!).
Sungai Asuwets yang akan kami lewati, memang masih banyak ’dihuni’ kawanan mahluk itu. Sepanjang sungai yang lebaaaar berwarna coklat lumpur itu, dipagari oleh tumbuhan mangrove dan nipah. Khas tumbuhan rawa dan tepi perairan. Jadi kebayang sama film Anaconda (hush!).. Horor lagi.

Di tempat yang dikatakan Fikram, kami tidak melihat si Buaya sama sekali. Mungkin karena lalulintas sungai sudah mulai ramai.
'OMBAK' sungai yang rasanya cukup besar, lumayan bikin ngeri. Apalagi waktu menampar dasar speedboat fiber kami. Suara yang kedengeran seperti mo bikin pecah boat! Lalu jadi paranoid, kalo perahu ini kebalik di sini gimana yah? Hiii.. ingat lintah.. ingat buaya.. ingat Anaconda... CUT-CUT-CUT!!

Akhirnya nyampe di Agats.
Oooh... jadi gini ya masyarakat Asmat itu. Eh di sini ternyata tak ada yang berkoteka. Semua berpakaian normal. Bahkan pakaian adatnya pun cukup manusiawi.
KABUPATEN Asmat ini hampir semua wilayahnya berada di tanah berawa. Hampir setiap hari hujan turun dengan curah 3.000-4.000 milimeter per tahun. Setiap hari juga pasang surut laut masuk ke wilayah ini. Makanya permukaan tanahnya sangat lembek dan berlumpur.

DENGAN kondisi seperti itu gak mungkin lah dibuat jalan beraspal. Karenanya, untuk akses jalanan dari suatu tempat ke tempat lainnya, dibangun semacam para-para yang tersusun dari bilahan-bilahan papan di atas tonggak kayu. Bahkan lapangan atau alun-alunpun dibuat dari jajaran papan.

Emm, bangunan kantor pak Bupati yang baru bukan dari papan ding. Rangkanya terbuat dari Baja... trus dindingnya terbuat dari lempengan serbuk kayu yang dicampur semen dan kapur. Hmm sedikit lebih modern lah.

JANGAN harap dapat menemukan kendaraan umum di sana. Kemanapun tujuannya, orang-orang harus berjalan kaki atau paling banter naik sepeda di dalam kota kabupaten yang bernama Agats tersebut. Transportasi air melalui sungai jadi alternatif paling umum digunakan di sana. Perahu kayu, longboat dan speedboat sering jadi pilihan untuk perjalanan antarkampung dan distrik. Bahkan, untuk mencari sagu dan gaharu di hutan pun mereka menggunakan perahu. Transportasi masyarakat Asmat ini terbuat dari kayu besi yang panjangnya rata-rata delapan meter. Dan woow.. mereka mendayungnya sambil berdiri lho.

BEGITU naik ke darat, kamipun harus jalan kaki menuju bakal tempat nginep kami (Alhamdulillah dapat rumah penduduk lokal yang kebetulan kosong, belum ditinggali yang punya). Rumahnya masih baru selesai dibangun, jadi relatif bersih. Jauuuuh mendingannya ketimbang hotel yang ada. (Kabarnya nih, hotel paling top di sana tarifnya sekitar 200 ribuan lebih dalam wujud sebuah kmr seukuran 3x3 plus tempat tidur dan kipas angin thok). Well the house is our luck. (bersambung lagi)

1 Comments:

At July 03, 2006 12:43 PM, Blogger Zainudin Meon said...

Bagus sekali ceritanya.

 

Post a Comment

<< Home