Thursday, July 06, 2006

Asmat Trip 4 : Teringat BAGUS-TV7


Prepare to ATSJ
Sesuai saran Pak Sorring, besok kami berencana ke ATSJ. Kabarnya, di distrik tersebut banyak memproduksi karya ukiran tradisional yang unik.
Malam itu perut kami ‘terjaga’ stabil hehehe. Sampai di rumah, kami berebutan masuk kamar mandi. Bukan apanya, jam 24.00 genset yang mendukung penerangan kami akan dimatikan. Waah gak seru kaleee mandi malam-malam cuma pake lilin.
Bener deh, pas semuanya dah pada bersih, lilin dinyalakan, mati deh si Genset dan segenap penerangan di sekitarnya. Dramatisnya lagi, karena hujanpun ikutan turun. Hujan di Asmat sangar banget... deras plus bonus angin kencang dan geledek+petir layaknya badai kecil dah.
Dalam temaram lilin, kami prepare perlengkapan untuk besok. Sempat ragu juga, dengan model cuaca seperti itu, besok bisa nggak yah nyebrang ke distrik Atsj. Wong gak hujan aja ombak sungainya gede-gede. Stok pelampung boleh minjem dari Pak Sorring pun cuma 3 padahal yang mo ke sana berlima, enam ma ’sopir’ perahunya.
Aku berangkat tidur dengan was-was ”kuat nggak rumah kayu ini menahan deru angin di luar sana ya?”.”Kalo model hujan kayak gini, besok pagi reda gak yah?”. ”perjalanan ke atsj bakal baik-baik gak ya?”


Ingat BAGUS-TV7
Paginya, hujan tinggal rintik-rintik. Kami menuju ke port tempat speedboat Pemda bantuan Wabup menunggu. Tapi ’sopir’nya masih belum mau berangkat kalau hujan masih tetap turun, meski rintik-rintik. Alasannya, cuaca di Asmat bisa berubah dengan sedemikian cepatnya. Hujan rintik bisa berubah jadi badai kecil lagi.
Fikram lalu cerita tentang kisah tragis Keluarga Pak Bupati Asmat (Suami-Istri dan 2 anak). Mereka menumpang boat dari Ewer (bandara) ke Agats. Sudah sampai di Port tiba-tiba turun hujan dan angin kencang. Perahu boat itupun terbalik karena belum sempat ditambatkan talinya. Kedua bocah malang yang baru berusia 2 dan 4 tahun hanyut terbawa arus sungai dan tenggelam lalu ditemukan tewas beberapa hari kemudian.Aku langsung merinding denger cerita itu.
[sambil nulis cerita ini aku lalu teringat pada temanku Bagus Dwi, kamerawan Jejak Petualang TV7 yang hilang di laut dalam perjalanan dari Asmat menuju Timika. Hingga kini Bagus belum juga ketahuan bagaimana kabarnya setelah hilang sejak 6 Juni lalu. --Semoga kamu cepat ditemukan Gus, betapapun keadaanmu!--].

Hujan akhirnya reda dan mendung membuka pandangan ke langit. Kami meluncur kencang membelah sungai yang pagi itu tenang dengan warna coklatnya. Tenangnya air sungai bukannya membuat aku ikutan tenang. Pikiranku malah liar menduga-duga ada mahluk apa yah di balik warna kecoklatan air itu? Ada mahluk apa yah yang bersembunyi dibalik pepohonan nipah dan mangrove yang memagari sepanjang sungai itu. Hhiih... (Lihat sambungannya)

1 Comments:

At July 26, 2006 12:27 PM, Blogger BudhiWiendha said...

Waktu menyaksikan musibah yang menimpa rekan-rekan TV7, gue ingat elu jo, sumpah, yang kepikiran anak-anak elu yang 3 orang itu lho. Tapi jangan kira kekaguman gue atas keberanian lu, nggak luntur. Hati-hati aja ya, gue cukup menikmati kisah-kisahnya, nggak usah berkunjung deeeh, gue takuuuut. eh, kalau tiba-tiba elu yang nemuin bagus tv7 salam dari gue ya ...

 

Post a Comment

<< Home