Thursday, July 06, 2006

Asmat Trip 5 : Distrik Atsj

Wondering Trip
Perjalanan ke Atsj butuh waktu sekitar 4 jam one way menggunakan speedboat seperti yang kami tumpangi. Hatiku sibuk memohon pada Allah SWT, duh selamatkan dan lindungi kami dalam perjalanan ini.

Gelembung udara yang sesekali muncul di kejauhan sungai membuat pikiranku semakin heboh menduga-duga ada apa di bawah sana. Apalagi ketika boat harus melambat untuk menghindari cabang-cabang pohon dan onggokan dedaunan yang hanyut, agar tidak terlilit baling-baling. Dan... ”...apa itu!!!” aku berseru sambil menunjuk ke sisi kanan depan boat. Dalam kecepatan lambat boat, aku jelas melihat sesuatu meliuk seperti ekor ular yang menurutku cukup besar karena diameter bagian ekor itu sebesar pergelangan tanganku. Fikram menjawab dengan senyum, ”ooh, ular. Ah dia juga takut sama kita” jelasnya santai. Haallaah, speechlesslah aku dengar jawabannya

Perjalanan ini terasa lama sekali. Kengerian dan kekaguman berbaur menyatu setiap kali melihat suguhan pemandangan sekitar. Rumah-rumah tradisional ’Jew’, penduduk lokal di atas perahu tradisional mereka, burung-burung unik seperti Flamingo berwarna pink dan Enggang yang ramai beterbangan serta lautan eceng gondong yang setiap kali harus dihindari boat (serasa lagi main game).


Tiba di Atsj
Akhirnya kamipun tiba di Atsj. Tak jauh beda dengan Agats saudaranya, Atsj-pun kurang lebih sama ‘penampakan’nya. Rumah-rumah papan, jalanan papan. Hanya, sepertinya kehidupan di sini agak lebih semarak. Ada daratan tanah keras tempat berdiri sebuah bangunan sepertinya persiapan untuk kantor bila dermaga yang tengah dibangun di tepi sungai itu nantinya resmi menjadi dermaga/pelabuhan laut terbesar di Kabupaten Asmat. Kegiatan ekonomi disinipun terlihat semarak. Ditandai banyaknya warung-warung, rumah makan sederhana dan hotel yang lebih modis.


Kami kemari untuk melihat prospek penambahan BTS (Base Tranciever Station) sekaligus berkunjung ke rumah traditional ’Jew’ yang konon menyimpan koleksi ukiran Asmat yang terkenal.
Kami sempat terpana melihat sebuah patung besar terbuat dari kayu di entrance depan sebuah Gereja Katolik. Patung itu menggambarkan sosok ’Jesus’. Kata Fikram, patung itu dibuat secara bersamaan oleh 5 orang pematung di daerah situ...tanpa melihat pola/gambar. Masing-masing mengerjakan setiap bagian tubuh patung dengan feeling dan interpretasi sendiri-sendiri. Mengagumkan sekali bisa menunjukkan hasil seperti itu.

Sayang, waktu nyampe di Jew yang diincar, ternyata para pengrajin sedang tidak punya banyak koleksi kerajinan. Yang ada hanya pisau dari tulang Kasuari, sebuah patung tiga dimensi setinggi kurang dari semeter, dan dua hiasan dinding panjang. Dialog seru lalu terjadi pada saat proses tawar-menawar. Biasaaaa, daku dengan naluri mami-mami senantiasa haus akan gairah menawar. Sementara seseorang yang kliatannya adalah Boss Geng sudah mengumumkan dengan volume suara gede ”..ini dong pung harga su trada bisa kasi turun lagi. Poko nya pas begitu suda”.

Patung panjang malah lucu dikasih harganya "...hitung 50 ribu saja satu kepala". Patung itu menggambarkan orang yang lagi duduk sambil megang pundak orang didepannya. Ada dua patung kayak gitu, satunya enam orang satunya lagi delapan orang. Fikram bisik2 sama aku "...nek tuku ra nganggo endas e iso gratis be'e yo?!" (=kalo beli gak pake kepala, gratis kali ya).

Aku tetep mengandalkan gaya mamaku, kalo tawaranku gak diterima ya kita tinggal aja [meskipun temen2 bilang udah beli aja, kapan lagi bisa kesini dapet barang ginian]. Tapi gaya mamaku ternyata berhasil, pas di depan pintu Jew, si pemilik patung yang aku incar akhirnya mau melepas jualannya hingga 50% dari harga penawaran awal. Tuni yang juga ngincar barang yang sama, kliatan dongkol banget hehehe (sorry coy, that's what mothers are for...ngajarin teknik nawar). Dia cuma dapat pisau tulang Kasuari. Itupun katanya terpaksa "dari pada kita pulang ditusuk tulang kasuari gara-gara gak ada yang dibeli". Cekakakakak!!

Kami pulang sore itu juga ke Agats tanpa sempat makan siang karena mengejar pasang-surut sungai. Tapi untunglah malam itu kembali kami diundang untuk menikmati 'Timba Nasi dan Kepiting' di rumah pak Sorring. Wah, besok harus segera pulang ke Timika. Rasanya masih banyak yang ingin dieksplore dari daerah ini. Aku masih penasaran dengan penjualan produk prabayar di sini. Bagaimana distribusi dan penyerapannya. Ah, sutralah..paling tidak aku sempat merasakan kehidupan di daerah ini.

Keesokan paginya kami menuju Ewer. Hujan lebat sempat bikin deg-degan jangan-jangan pesawat gak masuk lagi nih.. Dari petugas bandara, kami dapat kabar jika pesawat ke Timika tetap bisa terbang pagi itu, tapi pesawat ke Merauke (tujuanku) justru masih gak janji. Aku dan Tuni gambling segera ganti tujuan ke Timika saja (untung dapat). Sampai di sini kisah Asmat Trip.

Saat boarding, mataku masih sempat membaca potongan kalimat dari buku Potensi Daerah-Litbang KOMPAS bercerita :
“…Ketergantungan suku Asmat pada hutan cukup tinggi. Hal ini terlihat dari kehidupan sehari-hari yang menggunakan bahan-bahan dari hutan, seperti sagu, kayu besi untuk bahan bangunan, perahu, dan media memahat. Hampir 90 persen penduduk bekerja di sektor yang menghasilkan kayu.

Sebenarnya hutan luas yang sebagian besar menguasai permukaan tanah berawa di wilayah Asmat ini, juga menghasilkan komoditas nonkayu, seperti gaharu, kemiri, kulit masohi, kulit lawang, damar, rotan, dan kemendangan. Bahkan, gaharu populer di masyarakat Asmat karena mendatangkan banyak uang.
Pekerjaan rumah dalam membangun Asmat cukup berat. Banyak kendala dan masalah yang harus dihadapi. Sarana-prasarana dasar seperti transportasi, kesehatan, pendidikan, telekomunikasi, listrik, dan air bersih belum semua terjangkau oleh masyarakat. Bahkan, data-data statistik pun belum tersedia.

Pada tahun anggaran 2004, 41,45 persen dari dana alokasi umum Rp 111 miliar dan dana alokasi khusus Rp 4 miliar akan digunakan untuk belanja modal (belanja pembangunan), seperti proyek fisik peningkatan sarana prasarana kesehatan, perumahan, peribadatan, penunjang pemilu, angkutan laut dan udara, serta frekuensi penerbangan dan proyek nonfisik seperti peningkatan kesadaran orangtua murid akan pendidikan, kesejahteraan guru honorer, penyediaan obat-obatan sesuai kebutuhan dan jenis penyakit, dan pemberdayaan ekonomi masyarakat….” Twin otter yang aku tumpangipun lepas landas menembus rintik hujan, meninggalkan hamparan tanah coklat dibawah sana dengan segala potensinya. C U again.

0 Comments:

Post a Comment

<< Home