Asmat Trip 5 : Distrik Atsj
Wondering Trip
Perjalanan ke Atsj butuh waktu sekitar 4 jam one way menggunakan speedboat seperti yang kami tumpangi. Hatiku sibuk memohon pada Allah SWT, duh selamatkan dan lindungi kami dalam perjalanan ini.
Gelembung udara yang sesekali muncul di kejauhan sungai membuat pikiranku semakin heboh menduga-duga ada apa di bawah sana. Apalagi ketika boat harus melambat untuk menghindari cabang-cabang pohon dan onggokan dedaunan yang hanyut, agar tidak terlilit baling-baling. Dan... ”...apa itu!!!” aku berseru sambil menunjuk ke sisi kanan depan boat. Dalam kecepatan lambat boat, aku jelas melihat sesuatu meliuk seperti ekor ular yang menurutku cukup besar karena diameter bagian ekor itu sebesar pergelangan tanganku. Fikram menjawab dengan senyum, ”ooh, ular. Ah dia juga takut sama kita” jelasnya santai. Haallaah, speechlesslah aku dengar jawabannya
Perjalanan ini terasa lama sekali. Kengerian dan kekaguman berbaur menyatu setiap kali melihat suguhan pemandangan sekitar. Rumah-rumah tradisional ’Jew’, penduduk lokal di atas perahu tradisional mereka, burung-burung unik seperti Flamingo berwarna pink dan Enggang yang ramai beterbangan serta lautan eceng gondong yang setiap kali harus dihindari boat (serasa lagi main game).
Tiba di Atsj
Akhirnya kamipun tiba di Atsj. Tak jauh beda dengan Agats saudaranya, Atsj-pun kurang lebih sama ‘penampakan’nya. Rumah-rumah papan, jalanan papan. Hanya, sepertinya kehidupan di sini agak lebih semarak. Ada daratan tanah keras tempat berdiri sebuah bangunan sepertinya persiapan untuk kantor bila dermaga yang tengah dibangun di tepi sungai itu nantinya resmi menjadi dermaga/pelabuhan laut terbesar di Kabupaten Asmat. Kegiatan ekonomi disinipun terlihat semarak. Ditandai banyaknya warung-warung, rumah makan sederhana dan hotel yang lebih modis.Kami kemari untuk melihat prospek penambahan BTS (Base Tranciever Station) sekaligus berkunjung ke rumah traditional ’Jew’ yang konon menyimpan koleksi ukiran Asmat yang terkenal.
Kami sempat terpana melihat sebuah patung besar terbuat dari kayu di entrance depan sebuah Gereja Katolik. Patung itu menggambarkan sosok ’Jesus’. Kata Fikram, patung itu dibuat secara bersamaan oleh 5 orang pematung di daerah situ...tanpa melihat pola/gambar. Masing-masing mengerjakan setiap bagian tubuh patung dengan feeling dan interpretasi sendiri-sendiri. Mengagumkan sekali bisa menunjukkan hasil seperti itu.Sayang, waktu nyampe di Jew yang diincar, ternyata para pengrajin sedang tidak punya banyak koleksi kerajinan. Yang ada hanya pisau dari tulang Kasuari, sebuah patung tiga dimensi setinggi kurang dari semeter, dan dua hiasan dinding panjang. Dialog seru lalu terjadi pada saat proses tawar-menawar. Biasaaaa, daku dengan naluri mami-mami senantiasa haus akan gairah menawar. Sementara seseorang yang kliatannya adalah Boss Geng sudah mengumumkan dengan volume suara gede ”..ini dong pung harga su trada bisa kasi turun lagi. Poko nya pas begitu suda”.Patung panjang malah lucu dikasih harganya "...hitung 50 ribu saja satu kepala". Patung itu menggambarkan orang yang lagi duduk sambil megang pundak orang didepannya. Ada dua patung kayak gitu, satunya enam orang satunya lagi delapan orang. Fikram bisik2 sama aku "...nek tuku ra nganggo endas e iso gratis be'e yo?!" (=kalo beli gak pake kepala, gratis kali ya).
Aku tetep mengandalkan gaya mamaku, kalo tawaranku gak diterima ya kita tinggal aja [meskipun temen2 bilang udah beli aja, kapan lagi bisa kesini dapet barang ginian]. Tapi gaya mamaku ternyata berhasil, pas di depan pintu Jew, si pemilik patung yang aku incar akhirnya mau melepas jualannya hingga 50% dari harga penawaran awal. Tuni yang juga ngincar barang yang sama, kliatan dongkol banget hehehe (sorry coy, that's what mothers are for...ngajarin teknik nawar). Dia cuma dapat pisau tulang Kasuari. Itupun katanya terpaksa "dari pada kita pulang ditusuk tulang kasuari gara-gara gak ada yang dibeli". Cekakakakak!!Kami pulang sore itu juga ke Agats tanpa sempat makan siang karena mengejar pasang-surut sungai. Tapi untunglah malam itu kembali kami diundang untuk menikmati 'Timba Nasi dan Kepiting' di rumah pak Sorring. Wah, besok harus segera pulang ke Timika. Rasanya masih banyak yang ingin dieksplore dari daerah ini. Aku masih penasaran dengan penjualan produk prabayar di sini. Bagaimana distribusi dan penyerapannya. Ah, sutralah..paling tidak aku sempat merasakan kehidupan di daerah ini.Keesokan paginya kami menuju Ewer. Hujan lebat sempat bikin deg-degan jangan-jangan pesawat gak masuk lagi nih.. Dari petugas bandara, kami dapat kabar jika pesawat ke Timika tetap bisa terbang pagi itu, tapi pesawat ke Merauke (tujuanku) justru masih gak janji. Aku dan Tuni gambling segera ganti tujuan ke Timika saja (untung dapat). Sampai di sini kisah Asmat Trip.
Saat boarding, mataku masih sempat membaca potongan kalimat dari buku Potensi Daerah-Litbang KOMPAS bercerita : 
“…Ketergantungan suku Asmat pada hutan cukup tinggi. Hal ini terlihat dari kehidupan sehari-hari yang menggunakan bahan-bahan dari hutan, seperti sagu, kayu besi untuk bahan bangunan, perahu, dan media memahat. Hampir 90 persen penduduk bekerja di sektor yang menghasilkan kayu. Sebenarnya hutan luas yang sebagian besar menguasai permukaan tanah berawa di wilayah Asmat ini, juga menghasilkan komoditas nonkayu, seperti gaharu, kemiri, kulit masohi, kulit lawang, damar, rotan, dan kemendangan. Bahkan, gaharu populer di masyarakat Asmat karena mendatangkan banyak uang.
Pekerjaan rumah dalam membangun Asmat cukup berat. Banyak kendala dan masalah yang harus dihadapi. Sarana-prasarana dasar seperti transportasi, kesehatan, pendidikan, telekomunikasi, listrik, dan air bersih belum semua terjangkau oleh masyarakat. Bahkan, data-data statistik pun belum tersedia.
Pada tahun anggaran 2004, 41,45 persen dari dana alokasi umum Rp 111 miliar dan dana alokasi khusus Rp 4 miliar akan digunakan untuk belanja modal (belanja pembangunan), seperti proyek fisik peningkatan sarana prasarana kesehatan, perumahan, peribadatan, penunjang pemilu, angkutan laut dan udara, serta frekuensi penerbangan dan proyek nonfisik seperti peningkatan kesadaran orangtua murid akan pendidikan, kesejahteraan guru honorer, penyediaan obat-obatan sesuai kebutuhan dan jenis penyakit, dan pemberdayaan ekonomi masyarakat….” Twin otter yang aku tumpangipun lepas landas menembus rintik hujan, meninggalkan hamparan tanah coklat dibawah sana dengan segala potensinya. C U again.
Asmat Trip : Photos....

Rumah penduduk, dilihat dari tepi sungai Asuwets
Perahu Traditional Asmat, yang ini dipake para Ibu-Ibu yang mau dagang ke Pasar ato ngantar anak ke sekolah dan ke Time Zone (???)

Mesjid di Agats, Allahu Akbar!
Salah satu Hotel di Agats. mau dibantu reservasi?

Nyante di pinggir 'jalan'

Naek BMW booo (Boat Mera.. Warnanya), Jo-mbak Tita (depan), Tunitiro-Bintang (blkg)

Alun-Alun di Agats, rame pas pemilihan calon Gubernur Papua

Dunia anak, dunia bermain.Bocah Agats asik mencari ular lumpur.
Yang satu ngintip "eh, itu ular apa 'uler' yah?"
Berpakaian adat, memeriahkan Pilkada.
Asmat Trip 4 : Teringat BAGUS-TV7

Prepare to ATSJ
Sesuai saran Pak Sorring, besok kami berencana ke ATSJ. Kabarnya, di distrik tersebut banyak memproduksi karya ukiran tradisional yang unik.
Malam itu perut kami ‘terjaga’ stabil hehehe. Sampai di rumah, kami berebutan masuk kamar mandi. Bukan apanya, jam 24.00 genset yang mendukung penerangan kami akan dimatikan. Waah gak seru kaleee mandi malam-malam cuma pake lilin.
Bener deh, pas semuanya dah pada bersih, lilin dinyalakan, mati deh si Genset dan segenap penerangan di sekitarnya. Dramatisnya lagi, karena hujanpun ikutan turun. Hujan di Asmat sangar banget... deras plus bonus angin kencang dan geledek+petir layaknya badai kecil dah.
Dalam temaram lilin, kami prepare perlengkapan untuk besok. Sempat ragu juga, dengan model cuaca seperti itu, besok bisa nggak yah nyebrang ke distrik Atsj. Wong gak hujan aja ombak sungainya gede-gede. Stok pelampung boleh minjem dari Pak Sorring pun cuma 3 padahal yang mo ke sana berlima, enam ma ’sopir’ perahunya.
Aku berangkat tidur dengan was-was ”kuat nggak rumah kayu ini menahan deru angin di luar sana ya?”.”Kalo model hujan kayak gini, besok pagi reda gak yah?”. ”perjalanan ke atsj bakal baik-baik gak ya?”

Ingat BAGUS-TV7
Paginya, hujan tinggal rintik-rintik. Kami menuju ke port tempat speedboat Pemda bantuan Wabup menunggu. Tapi ’sopir’nya masih belum mau berangkat kalau hujan masih tetap turun, meski rintik-rintik. Alasannya, cuaca di Asmat bisa berubah dengan sedemikian cepatnya. Hujan rintik bisa berubah jadi badai kecil lagi.
Fikram lalu cerita tentang kisah tragis Keluarga Pak Bupati Asmat (Suami-Istri dan 2 anak). Mereka menumpang boat dari Ewer (bandara) ke Agats. Sudah sampai di Port tiba-tiba turun hujan dan angin kencang. Perahu boat itupun terbalik karena belum sempat ditambatkan talinya. Kedua bocah malang yang baru berusia 2 dan 4 tahun hanyut terbawa arus sungai dan tenggelam lalu ditemukan tewas beberapa hari kemudian.Aku langsung merinding denger cerita itu.
[sambil nulis cerita ini aku lalu teringat pada temanku Bagus Dwi, kamerawan Jejak Petualang TV7 yang hilang di laut dalam perjalanan dari Asmat menuju Timika. Hingga kini Bagus belum juga ketahuan bagaimana kabarnya setelah hilang sejak 6 Juni lalu. --Semoga kamu cepat ditemukan Gus, betapapun keadaanmu!--].Hujan akhirnya reda dan mendung membuka pandangan ke langit. Kami meluncur kencang membelah sungai yang pagi itu tenang dengan warna coklatnya. Tenangnya air sungai bukannya membuat aku ikutan tenang. Pikiranku malah liar menduga-duga ada mahluk apa yah di balik warna kecoklatan air itu? Ada mahluk apa yah yang bersembunyi dibalik pepohonan nipah dan mangrove yang memagari sepanjang sungai itu. Hhiih... (Lihat sambungannya)
Asmat Trip 3 : Timba Nasi
Lumayan juga bakar kalori siang hari bolong sambil manggul 2 back pack. Asli keringat mengucur dengan kuyupnya. Buat ngusir rasa haus and ngos-ngosan, pura-puranya sesekali brenti trus moto-moto kiri-kanan. Padahal maksud hati udah kepengen slonjoran aja dah di atas jalanan papan ini. Angin yang meniup seddeeep banget rasanya mengelus-ngelus body.
Sampe di ”rumah kita” rombongan langsung menggelontor tenggorokan dengan sebotol besar air mineral. Masih juga berharap dalam hati ”ooh... andaikan ada sedikit es batu mendinginkan air ini”. Bersyukur keq...
Jalan kaki siang itu, jelas bikin ’hungry like a fox’ dong. Dimana warung terdekat? Itu pertanyaan yang langsung terlontar. ”Ada. Dekat pelabuhan tempat tadi kita naik....” kata Tuni. WHAATT!! Jadi kita musti balik ke sono lagi, haiiyaaaa!
Demi makan...ya wes kamipun berjalan ke arah balik di sekitar pasar dan pelabuhan. Nyampe di Rumah Makan yang direkomendasikan Tuni, kami langsung nanya-nanya soal daftar menu yang ada. Hmmm, ternyata no need menu list. Tinggal melongok ke ’etalase’ aja ketahuan deh apa saja yang bisa kita SIKAT siang itu.
Setelah sepakat pada menu yang tersedia, kamipun mesen ke si nona.
Si nona bilang ”..aa, timba nasi saja dulu sudah”
...excuse me? Aku lalu saling natap dengan kening mengernyit sama Bintang..
Timba Nasi? Nasinya ditaro di sumur, apa?
Aku coba nanya lagi ”...dimana nasinya?”
”Ambil suda di termos sebelah”
Tuni dan Fikram senyum-senyum (aslinya pasti mo ngetawain aku tuh!). Setelah Timba Nasi di termos sebelah, trus di’timba’in lauk dan sayur sama si nona-nya. Kami ngambil meja. Baru si Tuni ngejelasin kalo Timba Nasi itu maksudnya, ”...noh...ambil nasinya sono” halah!
Makan siang itu : setimba eh sepiring Nasi+Sayur labu siam+telur dadar+sepotong cakalang goreng, seharga 35 rebu diluar minumnya lho!. Buset dah. Ditempatku sudah dapat seporsi gede Konro Bakar-nasi plus es pisang ijo tuh. Whatever, inilah Agats.
Galery Otto
Agenda setelah makan dilanjutkan dengan sowan ke kantor Bupati. Tapi berhubung waktu itu beliau lagi gak ada, kami jadinya ketemuan sama Wabup-nya Bapak Sorring (yang ternyata orang Toraja). Ngobrol sana-sini, motret-ceklak-ceklik akhirnya kami pamit dengan sumringah karena dapat undangan Timba Nasi nanti malam di rumah dinas pak Sorring. Hari gini dapat gratisan di kampung orang emang paling TOP dah rasanya.
Kadung keringetan jalan kaki kesana kemari, kami hajar aja sekalian dengan mengunjungi tempat pengrajin ukiran tradisional Asmat. Otto, nama lelaki pengumpul karya seni rekan-rekannya, membawa kami melihat galery-nya. ”...aa biasa saja yang ada. Trada yang talalu bagus. Kalu mo bale ulang bulan Oktober bole. Ada festival budaya Asmat. Disitu baru bagus-bagus punya ukiran”, Otto menerangkan pada kami.
Setelah ceklik-ceklik dan membeli beberapa ukiran khas di Galery Otto, tidak terasa waktu sudah petang. Wah harus segera bergeser ke tujuan berikut nih.. Rumah Pak Sorring buat Timba Nasi malam.
Asmat, Kabupaten yang belum memiliki pasokan listrik dari PLN. So, kalau mau keluyuran malam, ya kudu bawa senter sendiri. Rumah Pak Sorring ternyata dooooh jauh skaleee. Perut kami menjadi begitu merana plus telapak kaki dan betis tersiksa. Kami terjebak kegelapan ketika menuju ke sana. Layar LCD handphone jadi senter dadakan demi membantu mata kami menemukan rumah si Bapak.
Sampai depan gerbang Pak Sorring, tanpa malu-malu aku langsung ndeprok selonjor. Asli pegel!!! Sementara mbak Tita mencoba mnghubungi Bapak via HP untuk membukakan pintunya. Malam itu kami sukacita membuang waktu di rumah pak Sorring yang sejuk ber-AC, Timba Nasi dengan lauk dan sambel yang lezaat, plus minuman dingin.
(kami yakin si Bapak pasti pening mendadak menghirup aroma tubuh kami. Soalnya satupun kami belum ada yang mandi dan ganti baju setelah beberapa kali keringetan-kering-keringetan-kering dengan the only suit di badan. hehehe). (masih disambung lagi)
Asmat Trip 2 : 1'st day in AGATS
TIBA di Ewer, rombongan kami dijemput rekan Fikram. Dari Ewer, kita harus naik speedboat setengah jam lagi ke Agats (ibukota Kabupaten Asmat) untuk dapat melihat masyarakat Asmat. Nyewa speedboat untuk sekali jalan, 200-250 ribu per orang BO!. Make sense lah mengingat harga bahan bakar (bensin/solar) di sana yang perliternya bisa 20 ribu!!
SAAT loading ke boat, Fikram ngomong ”ayo cepat naik, saya mau kasih liat buaya di pinggir sungai. Tadi waktu saya ke sini dia lagi berjemur di muara” (ih.. horor amat sih tawarannya!!).
Sungai Asuwets yang akan kami lewati, memang masih banyak ’dihuni’ kawanan mahluk itu. Sepanjang sungai yang lebaaaar berwarna coklat lumpur itu, dipagari oleh tumbuhan mangrove dan nipah. Khas tumbuhan rawa dan tepi perairan. Jadi kebayang sama film Anaconda (hush!).. Horor lagi.
Di tempat yang dikatakan Fikram, kami tidak melihat si Buaya sama sekali. Mungkin karena lalulintas sungai sudah mulai ramai.
'OMBAK' sungai yang rasanya cukup besar, lumayan bikin ngeri. Apalagi waktu menampar dasar speedboat fiber kami. Suara yang kedengeran seperti mo bikin pecah boat! Lalu jadi paranoid, kalo perahu ini kebalik di sini gimana yah? Hiii.. ingat lintah.. ingat buaya.. ingat Anaconda... CUT-CUT-CUT!!
Akhirnya nyampe di Agats.
Oooh... jadi gini ya masyarakat Asmat itu. Eh di sini ternyata tak ada yang berkoteka. Semua berpakaian normal. Bahkan pakaian adatnya pun cukup manusiawi.
KABUPATEN Asmat ini hampir semua wilayahnya berada di tanah berawa. Hampir setiap hari hujan turun dengan curah 3.000-4.000 milimeter per tahun. Setiap hari juga pasang surut laut masuk ke wilayah ini. Makanya permukaan tanahnya sangat lembek dan berlumpur.
DENGAN kondisi seperti itu gak mungkin lah dibuat jalan beraspal. Karenanya, untuk akses jalanan dari suatu tempat ke tempat lainnya, dibangun semacam para-para yang tersusun dari bilahan-bilahan papan di atas tonggak kayu. Bahkan lapangan atau alun-alunpun dibuat dari jajaran papan.
Emm, bangunan kantor pak Bupati yang baru bukan dari papan ding. Rangkanya terbuat dari Baja... trus dindingnya terbuat dari lempengan serbuk kayu yang dicampur semen dan kapur. Hmm sedikit lebih modern lah.
JANGAN harap dapat menemukan kendaraan umum di sana. Kemanapun tujuannya, orang-orang harus berjalan kaki atau paling banter naik sepeda di dalam kota kabupaten yang bernama Agats tersebut. Transportasi air melalui sungai jadi alternatif paling umum digunakan di sana. Perahu kayu, longboat dan speedboat sering jadi pilihan untuk perjalanan antarkampung dan distrik. Bahkan, untuk mencari sagu dan gaharu di hutan pun mereka menggunakan perahu. Transportasi masyarakat Asmat ini terbuat dari kayu besi yang panjangnya rata-rata delapan meter. Dan woow.. mereka mendayungnya sambil berdiri lho.
BEGITU naik ke darat, kamipun harus jalan kaki menuju bakal tempat nginep kami (Alhamdulillah dapat rumah penduduk lokal yang kebetulan kosong, belum ditinggali yang punya). Rumahnya masih baru selesai dibangun, jadi relatif bersih. Jauuuuh mendingannya ketimbang hotel yang ada. (Kabarnya nih, hotel paling top di sana tarifnya sekitar 200 ribuan lebih dalam wujud sebuah kmr seukuran 3x3 plus tempat tidur dan kipas angin thok). Well the house is our luck. (bersambung lagi)
Asmat Trip 1 : Nyampe di Ewer
Membuka kembali folder Asmat dari hardisk, membuat aku ingin berbagi tentang daerah ini. Sebuah kabupaten di pojok Irian Jaya sana yang sama sekali tidak pernah kusangka akhirnya bisa kukunjungi.
Setelah sempat hidup sepuluh hari di belantara Wamena tahun lalu, sedikit banyak aku membayangkan akan menjumpai sesuatu yang mirip antara dua daerah ini. Salah satunya kaum pria yang berkoteka.
Perjalanan diawali dengan pesawat. Untuk menuju ke lokasi ini, ada dua pilihan rute yang bisa diambil. Melalui Merauke, atau melalui Timika. Dua tempat ini dapat dijangkau dengan menumpang pesawat besar kelas Boeing. Setelah itu baru dilanjutkan dengan pesawat Twin Otter menuju Ewer.
Aromaterapi di Timika 
Well, aku kebagian skedul ke Timika dulu. Landing subuh-subuh di Bandara Moses Kilangin-Timika, ceritanya mau langsung lanjut ke Ewer. Tapi sayang, kondisi hujan lebat di Merauke mengganjal twin otter terbang ke Timika. Akhirnya, bersama rekanku Bintang dari Makassar dan Mbak Tita dari Jogya, kami perlu nginap dulu semalam di daerah yang waktu itu lagi heboh-hebohnya mengusung demo anti Freeport. Ngeri juga sih ketika di jalan-jalan sempat berpapasan dengan sekelompok masyarakat pribumi, sebagian lengkap tombak dan busur, berkulit hitam berwajah garang.
Di Timika, kami nginep di Hotel Sheraton yang begitu alami dengan layout hotel berbintang namun dikelilingi hutan hujan, yang hanya berjarak sekitar 5-10 m dari jendela hotel, tanpa pagar pembatas. Sensasional sekali rasanya saat bangun subuh kita langsung bisa mendengarkan kicauan aneka burung terutama Nuri dan Kakatua saling bersahutan. Bau daun basah khas hutan serasa aromaterapi yang menyegarkan.
Landasan TIKAR BAJA
Pagi-pagi benar, belum jam enam, kami bergegas menuju Bandara untuk mengejar pesawat ke Ewer. Maklum dengan kapasitas cuma untuk 18-20 orang, membuat kita harus berlomba-lomba memperebutkan seat. 
Enam ratus ribu, harga tiket one way Timika-Ewer. Buset --batinku--…lebih mahal dari tiket Makassar-Jakarta man! Padahal cuma sekitar 45 menit waktu tempuhnya dari Timika.
Pesawat berangkat tepat waktu jam 8 pagi. Kamera-ku tak bisa diam sepanjang jalan. Tak ingin melewatkan view belantara di bawah sana yang sungguh lebat dan padat dengan pepohonan, dibelah sungai-sungai besar bagai ular raksasa meliuk-liuk.
Sesaat menjelang mendarat membuat aku sedikit merasa tegang. Kata Tunitiro temanku dari Jayapura, landasan bandara di sana tidak terbuat dari aspal beton seperti bandara lainnya, kondisi tanah yang lembek berlumpur harus diakali dengan melapisi tanah dengan tikar baja.
Dan aku tambah was-was saat melihat penampang Tikar Baja itu dari atas, sebuah lempengan besi beralur dan berlubang-lubang (aduh, apa gak jadinya tambah licin nih landing di atas ‘besi’). Padahal, tepat di ujung landasan, terbentang sungai lebar. Aku betul-betul nervous saat pendaratan pesawat, yak.. karena baru kali ini juga aku akan merasakan ‘besi’ landing di atas ‘besi’.
Tapi segalanya berjalan mulus. Pendaratan berjalan ‘aman dan terkendali’. Begitu turun di tanah, kupelototi Tikar Baja itu dengan seksama dan sepuas-puasnya. Kita baru nyampe di Ewer, untuk melihat kehidupan suku Asmat perlu berkendaraan air lagi setengah jam……(bersambung)
Bersalin RUPA
Pagi ini di kantor lantai 2 sepertinya ada pemandangan lain. Tapi aku belum ngeh apa, soalnya tadi masuk ruangan sambil nelpon. Begitu naro’ tas, pas menghadap ke meja sekretris Vice President... iyaittss!!! Aaaah itu dia yang bikin lain... di sana aku lihat seorang Ernawati senyum manis dan JILBAB!! Aih Erna hari ini berjilbab... Duh cantik sekali dia.
Serius nih? ”Insya Allah mbak, ini buat selamanya...”
Alhamdulillah... akupun langsung cipika-cipiki buat dia, dengan setengah haru.
Ternyata dia bener-bener mewujudkan niat itu!!. Rasanya gimanaa gitu akhirnya melihat ada teman yang pake ”WIG” jilbab seperti itu. Wah sudah siap rupanya nih meninggalkan backless, tank top dan sejenisnya.
Ya, keputusan ”bersalin rupa” memang tak gampang untuk diambil tapi ya tidak susah juga.
Tidak gampang karena ada beberapa faktor yang harus diperhitungkan. Salah satu yang terberat adalah kandungan konsekwensi yang bermakna pada keajegan. Menggunakan ”WIG” demikian menuntut konsistensi dari pemakainya. Menuntut penggunanya untuk memilih satu jenis model saja untuk penampilannya. Sementara lingkungan menawarkan beragam alternatif tampilan dengan iming-iming kedinamisan, keatraktifan dan kemegahan.
Namun di sisi lain, ber”rupa” seperti itu ternyata juga menawarkan kebebasan tersendiri yang mewah buat pemakainya. Soal rambut, gak perlu pusing lagi kudu ngeblow-catok setiap pagi. Or sibuk nyisir setiap kali tatanannya terbongkar. Gak perlu lagi buang budget untuk sun block sekujur tubuh, cukup bagian wajah dan tangan saja. Gak sibuk lagi duduk susah buat nutupin ’celah’ gara-gara pake rok pendek. Apa lagi yah... ada yang mo nambahin?
Ah pokoknya menyenangkan dan itu tak akan menjadi masalah besar selama datangnya from the deep heart inside... iye tak?
Anyway, congratulation Erna... May Allah SWT bless upon you
Erna dahulu
dan Erna kini
Power Character
Setelah mengikuti test Personality Mapping Profile yang diadakan oleh Power Character, maka ternyata hasil test terhadap diriku menyodorkan result seperti ini :
Berdasarkan kombinasi dari keempat unsur temperamen yaitu Dominan, Intim, Stabil dan Cermat, diperoleh kombinasi temperamen seorang JOWVY ('J')adalah "DC" dengan jenis profile RESULT ORIENTED.
Sebagai seorang dengan profil demikian, 'J' tampil sangat percaya diri dan seringkali hal tersebut dipresentasikan sebagai kesombongan oleh orang lain.'J' juga cenderung mengekspresikan kekuatan egonya dan cenderung perlihatkan rasa individualisme yang kasar.
Secara aktif 'J' berusaha mencari kesempatan-kesempatan dimana ia dapat menguji dan mengembangkan kemampuannya untuk menyelesaikan suatu pekerjaan. 'J' juga berusaha untuk memperoleh suatu posisi dimana ia memiliki kekuasaan atas orang-orang disekitarnya dan terbebas dari ketergantungan atau kontrol orang lain.
'J' sangat menyukai tugas atau pekerjaan yang sulit dan menantang, situasi yang kompetitif dan posisi yang penting. Karenanya ia cenderung menilai orang lain berdasarkan kemampuan orang tersebut menyelesaikan tugas atau pekerjaan yang ada dengan cepat.
Seorang "Result Oriented" seperti dirinya memiliki ketekunan dan kegigihan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan sekalipun menghadapai tantangan dari orang-orang yang tidak mendukung. Kegigihan dan kekuatan karakter yang dimiliki 'J' tersebut membuat orang lain kagum terhadapnya.
Dengan karakteristik temperamen yang kuat, 'J' mampu melangkah dan terus maju. Bahkan di saat semua orang merasa bimbang. Hal inilah yang memungkinkan ia untuk berperan dan bertangungjawab sebagai pemimpin yang mengarahkan oerang-orang yang ada dalam organisasi atau perusahaan untuk tetap tekun dn gigih sampai tujuan tercapai.
Seorang "Result Oriented" seperti 'J' cenderung tidak sabaran dan menyukai persaingan menang-kalah. 'J' juga memiliki karakter yang keras dan cenderung "to the point", hal inilah yang membuatnya sulit membangun hubungan yang hangat dengan orang lain.
Ketika berada dalam situasi yang menekan, 'J' cenderung bersikap kritis dan mencari-cari kesalahan orang-orang disekitarnya. Bahkan ia akan menolak untuk bekerja sama dengan tim dan melakukan hal-hal yang melampaui hak-haknya.
Hal yang paling menakutkan bagi orang yang berprofil "Result Oriented" sepertinya adalah jika orang lain memanfaatkan dirinya. Selain itu ia juga khawatir jika ia menjadi lamban dalam menyelesaikan suatu pekerjaan dan menjadi terlalu mudah dipengaruhi oleh orang lain.
Sebagai seorang "Result Oriented", terdapat beberapa hal yang sebaiknya ditingkatkan sehingga ia dapat memiliki hubungan-hubungan yang berhasil. Yakni belajar untuk mengutarakan alasan-alasan dari pemikiran atau tindakan yang dilakukan. Serta mencoba untuk mengerti dan menerima sudut pandang dan ide orang lain yang berkaitan dengan tujuan-tujuannya.
Kata Bijak:
"SEBELUM ANDA MEMPERTARUHKAN SEGALANYA, ANDA TIDAK AKAN PERNAH MEMIMPIN" - Dr. Tom Haggai
Menjelang Dead Line....

ratusan ribu form registrasi menunggu diinput
Dalam lift pun tetap Ngisi...
Tak ada meja, di pangku-di bangku pun jadi

Tanya-tanya... biar gak merana

nomor KTP ku berapa neh?!!
GSM, satukan dua peradaban yang berbeda di Wamena

Laouk... Narak... lalu jabat hangat..
Begitu sapaan akrab yang kita terima saat tiba di Wamena, sebuah Kota Kabupaten yang terdapat di Jayapura. Dua kata tersebut kurang lebih berarti ’selamat’ atau ’salam’. Laouk diucapkan untuk wanita dan narak untuk lelaki. Wah... kesan serem dibalik kulit gelap dan cerita ngeri tentang Papua, blas lenyap! Kamipun terpesona pada senyum tulus dan bahasa santun mereka. 
Ini adalah penggalan cerita perjalanan kami menjelajahi pedalaman hutan Papua nan eksotik untuk program Jejak Petualang TV7. Kami bersama dengan para anggota simPATI Zone yang beruntung ikut dalam perjalanan luar biasa ini. Masing-masing Natasaha (Bandung), Tari (Bandar Lampung) Niken (Surabaya), Azmi (Batu-Malang) dan Mursalim (Sangihe).
Untuk mengamati kehidupan tradisional penduduk asli Wamena, kami harus berkendaraan selama kurang lebih dua jam dari kota Wamena menuju Watlangku dan rela trekking naik turun gunung Wiyan menerobos hutan dan nginep di tenda.
sa Pake simPATI... 
Hari pertama, kami mulai membelah hutan ditemani oleh guide dan porter yang terdiri dari para penduduk setempat. Mereka membantu membawakan perbekalan dan perlengkapan selama perjalanan. Buset! Saat kitanya ngos-ngosan bertreking ria (itupun gak memanggul apa-apa), para porter itu malah dengan nyantenya jalan tanpa alas kaki menapak lincah di jalan setapak dalam hutan. Eeh.. masih sempat pula nyanyi-nyanyi dan joget-joget dengan lagu khas mereka. Enak juga sih, kita jadinya terhibur dan heboh foto-foto. 
Ada kejadian seru waktu kami lagi istirahat untuk kesekian kalinya. Nafas masih tersengal-sengal ketika tiba-tiba, Natalis, salah seorang guide berteriak sambil berlari turun..”wooeee simPATI ada signaaall..!!”. Seperti dikomando semuanya langsung ngecek HP masing-masing yang sejak berangkat tadi bungkam dengan manis di kantong.
Seluruh pesertapun kompak geleng-geleng kepala...”Wiiih... gila... dalam hutan serapat kayak gini, tetep dapet signal Telkomsel?!”. Maka lalu sibuklah semuanya ber-sms ria melaporkan kejadian ajaib itu. Si Natalis dan beberapa rekan lain malah nekat coba menelepon dan BISA ! Heboh dah.. Natalis-pun promosi pada semua orang, ”sa pake simPATI ini. Karna cuma simPATI yang bagus de pu signal. Kuat punya !”. Mulai dari situ, HP peserta mulai rajin diaktifkan. Tiap kali ada kesempatan istirahat, semua pada ngecek HP.
Lepas Magrib rombongan tiba di kampung Wantubi. Saatnya mendirikan tenda untuk nginep dan istirahat setelah jatuh bangun bergelut dengan jalur yang licin dan sulit. Malam itu kami bergelung dalam sleeping bag masing-masing di ketinggian 2500m dpl, pada suhu 15 derajat Celsius. Brrr !
Oleh-Oleh Koteka
Hari kedua, setelah sarapan ubi dan bersih-bersih di sungai yang airnya dingin minta ampun. Kami kongkow bareng penduduk lokal. Kami diperlihatkan gimana mereka memanjat pohon dengan menggunakan sejenis rangkaian tali. Seorang kepala suku juga sempat menjelaskan bagaimana cara membuat Koteka (penutup kemaluan lelaki) dan ngasih 5 Koteka buat oleh-oleh (ada yang berminat? Hehe).
Selanjutnya kami diperlihatkan cara membuat gelang yang disebut Sengkan. Gelang tersebut dianyam dari 2 jenis batang tanaman tipis berukuran 1 mm. Yang berwarna coklat tua namanya mirele, yang berwarna pucat (hijau muda) disebut tingkil. Mereka menganyam dengan jarum kecil khusus terbuat dari kayu. Kami juga diberi penjelasan tentang pembuatan panah dan busur yang gagangnya terbuat dari kayu yoli, sedangkan pelontarnya terbuat dari rotan. Mata panah juga dibuat dari yoli.
Sambil menunggu kaka (=kakak) selesai membikin gelang, kami dihibur kaka lainnya yang memainkan alat musik PIKON. Alat ini terbuat dari bilah semacam pohon bambu yang disebut vinte. Cara membunyikanya dengan menghembuskan udara dari mulut, sambil menarik-narik benang di ujung lain Pikon.
Maka Pikonpun lalu bunyi lucu.. boeng woeng woeng….!
Puas ’berguru’ membuat macam-macam alat tradisonal, rombongan lalu diajak melihat kegiatan berkebun di ladang kakek Immanuel. Kami juga ikutan ngais-ngais tanah dan belajar menanam ubi jalar, tanaman pokok di kebun tersebut.
Seperti hari kemarin, peserta dengan giatnya mengecek signal. Dan tak sia-sia usaha itu, karena di ladang kakek Imanuel ini, HP kami ternyata kembali bisa dapat signal. Bunyi notifikasi sms masuk, sanggup mengembangkan senyum kami semua.
Cek SIGNAL Forever...
Sepulang berladang, rombongan kembali ke camp lalu makan siang dan segera berkemas siap melanjutkan perjalanan menuju ke kampung berikutnya, Narengkaima. Medan kali ini cenderung variatif, datar, mendaki, menurun dan becek. Kali ini peserta berspekulasi untuk terus mengaktifkan HP-nya.
Tiba-tiba, di suatu areal terbuka di satu sisi bukit, dimana kami bisa melihat kota Wamena dari atas sana.. para peserta mendadak menghentikan langkahnya ketika terdengar bunyi sms masuk. GPS yang dipegang crew TV7 menunjukkan saat itu kami berada di ketinggian 2140 m dpl. Kali ini, signal di HP terlihat hampir full. Istirahatpun jadi molor. Refleks seluruh peserta langsung sibuk dengan HP masing-masing. Yang sms-lah, telpon koordinasilah, laporanlah... rame!! (Saya sendiri penasaran... tower BTSnya aja nggak kelihatan dari atas sini, tapi koq bisa ada signal kenceng yah? Kota Wamena dan sekitarnya, saat ini dilayani oleh 2 BTS GSM dan 1 DCS yang terbagi dalam 2 site).
Kuatir kelamaan di jalan, kami bergegas masuk hutan lagi. Di jalur ini kami terkagum-kagum dengan banyaknya tumbuhan unik warna warni yang dijumpai di sepanjang jalan. Kebanyakan, sejenis anggrek gitulah. Dan salah satunya anggrek Kantong Semar yang sungguh eksotis itu. Ya sudah... foto sana-sini lagi..
Gunung Wiyan semakin tinggi kami daki. Tiba di titik 2890m dpl, akhirnya kami tiba di sebuah Pilamo (kompleks rumah tradisonal-Honai) di desa Narengkaima. Honai Baba, begitu Natalis menyebutkan nama kompleks Honai itu. Kami nginep lagi di sini. Hujan yang turun malam itu, menurunkan suhu hingga 13 derajat dan membuat tidur kami makin pulas dibalik tenda. Ya, kami memilih tidur di tenda ketimbang dalam honai yang hangat, karena mata kami perih tidak kuat dengan kepulan asap dari kayu bakar yang memang sengaja dibakar dalam honai untuk menjaga kehangatannya.

Bangun pagi, kami berkemas lagi untuk turun ke desa Jiwika atau Yiwika. Baru setengah jam turun bukit, rombongan kembali serempak berhenti... biasaaa.. ada bunyi sms masuk! Di tempat seperti ini, dapat signal memang rasanya lebih menyegarkan dari sebotol air dingin. Bahkan disaat kita kehausan sekalipun. Weleh.. weleh...!
Mulai dari titik tersebut sampai tiba di dataran terbuka berikutnya, peserta lebih sibuk dengan HP masing-masing ketimbang melihat jalanan setapak yang dilalui. Sampai ada yang nyeletuk “Telkomsel ini bener-bener deh… jangan-jangan ada yang bawa BTS mini nih di carriernya, makanya ada signal terus”. Saya malah bisa ngirim MMS ke Pak Paulus Jatmiko dari situ, yang lalu diikuti oleh rekan lain sambil terheran-heran.
Jalur yang menurun terjal, kali ini cukup ‘menyenangkan’ karena perhatian terbagi dua antara jalanan dengan HP. Kami bersemangat turun gunung hingga tiba di Honai Modern desa Yiwika. Kenapa dinamai demikian, karena Honai yang satu ini sudah mengalami sentuhan ’tangan luar’ dengan design yang lebih manusiawi.
Honai tradisional umumnya ber’plafond’ rendah, cuma sekitar 60 cm. Tanpa jendela dan hanya beralaskan jerami. Sehingga akan terasa pengap bagi kita-kita yang belum terbiasa. Apalagi jika perapian di tengah ruangan sudah dinyalakan. Maka penuhlah dengan asap seluruh ruangan tersebut.
Sedangkan Honai modern yang berdiameter sekitar 3,5 m ini, dibuat agak lega dan kita bisa berdiri di dalamnya. Kabarnya, Honai modern ini sering digunakan untuk para pendatang atau turis yang ingin merasakan bermalam dalam nuansa Wamena asli, tapi masih tetap bisa ’bernafas lega’ di dalamnya. Malam itu kami memilih mencoba tidur didalamnya. Tapi kami belum cukup nekat untuk langsung berbaring di atas tumpukan jerami di lantainya. Matras dan sleeping bag masih tetap jadi alas andalan.
Masa lampau dan Masa depan, bersatu di sini
Esok paginya bertepatan dengan Hari NATAL, kamipun bersiap-siap mengikuti acara perayaan Natal di Honai Ailah. Seluruh keluarga besar Kepala Suku Ailah sudah berkumpul di Pilamo-nya. Ketika melihat kami datang, Kepala Suku langsung terisak-isak dan memeluk rekan Sugeng. Sugeng adalah anak angkatnya yang sudah lama tidak pernah datang ke sana.
Kami lalu berbaur dengan keluarga ini. Ikut bantu-bantu menumpuk bebatuan sebesar kepalan tangan dan batang pepohonan hingga membentuk bujursangkar 2 x 2 m persegi, untuk persiapan acara ’Bakar Batu’. Kami juga menyumbang Beras dan seekor Wam (=Babi) besar untuk acara ini.
Upacara memanah Wam lalu dilakukan oleh Kepala Suku. Pembakaran sudah dinyalakan. Batu-batu yang telah panas lalu dipindahkan dan disusun ke lubang lain di sebelahnya. Di atas bebatuan yang panas itu secara berselang-seling ditumpuki sayuran, ubi dan akhirnya daging Wam. Terakhir, ditutup dengan tumpukan alang-alang. Kita tinggal nunggu masaknya selama sekitar satu jam. Sementara di Honai Dapur, para ibu-ibu sibuk menyiapkan hidangan pelengkap lainnya seperti sayuran dan lauk-pauk.

Makan bersama digelar setelah sebelumnya diawali doa bersama. Kami terheran-heran melihat porsi makan mereka di sana. Nasi ditumpuk membumbung sepiring penuh (malah ada yang makan pake baskom kecil!!), lalu diatasnya diletakkan sayuran dan Wam bakar. Tampak begitu nikmat.
Di sini, signal Telkomsel tetap jagoan. Tapi kami cuma bisa melakukan sms tanpa bisa melakukan outgoing call. Beberapa proses dalam acara ini lalu saya rekam di kamera ponsel, lalu saya kirimkan ke beberapa teman plus ucapan Selamat Natal. Butuh waktu agak lama emang. Tapi toh tetep rasanya ajaib. Kami berada di kehidupan yang boleh dikata tertinggal, tapi sekaligus kami juga bisa memanfaatkan teknologi canggih! Oh TEKNOLOGI SELULER... engkau menyatukan peradaban masa lalu dan masa depan sekaligus di sini.
Menjelang petang, kamipun ’pulang’ ke Wamena dengan duduk bersesakan menumpang bis reot. Ditemani Sakeos dan Natalis, kami bernyanyi sepanjang jalan dengan lagu versi mereka... sayuuu narak... sayuuu narak... sampai berjumpa pula (=maksudnya lagu Sayonara, gitu lho!). <JoV>